Mitos atau Fakta: Banyak Anak Banyak Rejeki..?

Ungkapan “banyak anak banyak rejeki” merupakan salah satu pepatah yang sangat populer dan melekat kuat di tengah masyarakat Indonesia. Kalimat ini sering terdengar dalam kehidupan sehari-hari, terutama ketika membicarakan keluarga besar atau jumlah anak dalam sebuah rumah tangga. Bagi sebagian masyarakat, ungkapan tersebut menjadi bentuk keyakinan bahwa setiap anak yang lahir akan membawa keberkahan dan pintu rezeki tersendiri bagi orang tuanya. Karena diwariskan secara turun-temurun, kata-kata ini akhirnya menjadi nasihat yang merakyat dan dianggap sebagai motivasi untuk tidak takut memiliki keturunan.
Namun, jika dilihat dari sudut pandang Islam, makna “banyak anak banyak rejeki” tidak dapat dipahami secara sederhana sebagai jaminan bahwa semakin banyak anak maka semakin banyak pula harta yang akan diperoleh. Dalam ajaran Islam, anak memang dipandang sebagai amanah sekaligus anugerah dari Allah SWT. Al-Qur’an menjelaskan bahwa Allah adalah pemberi rezeki kepada setiap makhluk-Nya, termasuk anak-anak yang dilahirkan ke dunia. Kesalahpahaman muncul ketika sebagian orang menganggap ungkapan tersebut sebagai alasan untuk memiliki banyak anak tanpa mempertimbangkan kesiapan dalam memberikan nafkah, pendidikan, kesehatan, dan pengasuhan yang layak. Islam tidak hanya menganjurkan keberadaan keturunan, tetapi juga menekankan tanggung jawab besar orang tua dalam membesarkan anak.
Secara logis, kehadiran anak memang dapat menjadi sumber keberkahan, tetapi keberkahan tersebut tidak selalu berbentuk materi atau peningkatan ekonomi secara langsung. Anak dapat menjadi sumber kebahagiaan, semangat bekerja, penguat hubungan keluarga, bahkan menjadi amal jariyah bagi orang tua apabila dididik menjadi pribadi yang baik. Namun, memiliki anak juga membutuhkan perencanaan dan kemampuan, karena setiap anak memiliki hak untuk mendapatkan perhatian, kasih sayang, pendidikan, serta kebutuhan hidup yang terpenuhi. Dalam pandangan Islam, usaha manusia tetap menjadi bagian penting dalam mendapatkan rezeki. Orang tua diperintahkan untuk berikhtiar, bekerja, dan bertanggung jawab, sementara hasil akhirnya diserahkan kepada Allah SWT. Dengan demikian, ungkapan “banyak anak banyak rejeki” lebih tepat dipahami sebagai keyakinan bahwa setiap anak membawa potensi keberkahan, bukan sebagai alasan untuk mengabaikan kesiapan dan tanggung jawab.
Pandangan tersebut sejalan dengan penjelasan para ulama bahwa anak adalah titipan Allah yang harus dijaga dengan baik. Salah satu rujukan yang sering dikutip dalam pembahasan ini adalah penjelasan dari Ustadz Adi Hidayat yang menyampaikan bahwa rezeki telah diatur oleh Allah, tetapi manusia tetap memiliki kewajiban untuk berusaha dan menjalankan tanggung jawabnya. Oleh karena itu, memiliki banyak anak bukan sekadar persoalan jumlah, melainkan tentang kesiapan orang tua dalam menciptakan keluarga yang berkualitas dan penuh keberkahan.